Amoplusmagz
Prosesor 8 Kanal Prosesor 8 Kanal
Prosesor kini tidak hanya monopoli merek branded Jepang yang harganya mahal. Prosesor yang harganya ekonomis sudah hadir. Prosesor 8 Kanal

Foss Z-One DSP

Prosesor kini tidak hanya monopoli merek branded Jepang yang harganya mahal. Prosesor yang harganya ekonomis sudah hadir.

Di masa kini kehadiran prosesor sebagai perangkat pengolah suara sudah menjadi hal yang wajib. Installer sudah semakin menyadari kemudahan untuk setting audio dengan menggunakan prosesor. Demikian pula customer, sudah mulai menyukai setting audio yang lebih akurat.

Memang dengan kehadiran prosesor, setting menjadi semakin mudah dan cepat. Dengan catatan bagi yang “bisa” melakukannya. Paling tidak setting prosesor membutuhkan komputer (laptop) dan RTA (real time audio analyzer). Namun saat ini bisa dibilang hampir semua installer punya komputer dan harga RTA juga tidak terlalu mahal. Malah yang paling murah bisa beli microphone dan download programnya di internet.

Harga prosesor-pun semakin murah. Dulu perlu belasan juta untuk hanya sebuah prosesor. Kini bahkan beberapa head unit sudah mengaplikasikan prosesor sederhana. Kalau belum ada prosesornya bisa juga membeli prosesor terpisah yang kini harganya semakin ekonomis seperti yang satu ini.

Foss Z-One DSP 8CH

Dari casingnya yang berwarna hitam dengan sirip-sisip di dua sisinya, prosesor ini mirip dengan power mini. Casingnya juga berbahan aluminium die cast yang ringan dan kuat. Emblem Foss yang berwarna emas, dipasangkan di tengah-tengahnya. Dari penampilan terkesan sebuah produk yang mewah dan berharga premium.

Di sisi input terlihat lima terminal RCA. Satu untuk input sinyal digital coaxial, empat channel RCA untuk low dan sekaligus juga hi-input, dan satu terminal optical input. Di sisi ini ada tombol selector untuk menentukan input yang masuk ke empat terminal RCA tersebut. Tapi luar biasanya ada juga pilihan A, yang berarti “auto”, di mana prosesor mampu menganalisa sendiri sinyal input yang diumpankan kepadanya. Kemudian satu terminal lagi untuk menghubungkan dengan eksternal display sekaligus controller. Eksternal controller berukuran sedang (setengah head unit), yang dihubungkan dengan kabel yang cukup panjang (sekitar 5 meter).  Pada sisi yang berlawanan, tampak lebih sederhana. Satu USB untuk melakukan setting, empat pasang terminal output RCA (low signal) dan terminal power supply.

Untuk pembelian prosesor ini, dilengkapi juga dengna softwarenya, jadi pengguna juga dapat melakukan atau merubah setting sendiri.

Test Program

Sebelum melakukan serangkaian tes, program yang disimpan dalam media cd, lebih dahulu kami install ke laptop. Untuk sesuatu yang pertama, pasti perlu penyesuaian. Tapi tampak program yang disediakan tampak sederhana, grafiknya standar dan mudah untuk dipahami. Khususnya bagi yang sudah pernah melakukan setting prosesor sebelumnya.

Untuk program, terlihat Foss mendesian untuk settingan per kanal. Jadi tiap kanal bisa mendapatkan “sentuhan” spesial secara independent. Inputnya juga bisa dipilih, dari kanal yang mana yang ingin di lewatkan ke outputnya. Atau bisa juga dijumlahkan antar dua input (biasanya untuk subwoofer).

Secara program dasar tidak ada yang terlalu istimewa semua standar untuk prosesor. Seperti diantaranya pengaturan crossover, phase, time alignment, dan ekualiser. Namun jika di teliti secara lebih detail ada yang istimewa. Salah satunya adalah untuk pengaturan ekualiser, frekeunsi yang diatur dapat dipilih sesuai kehendak hingga tiga angka di belakang koma. Jadi misalnya frekuensi yang akan di olah adalah frekuensi 20,998 Hz, itu di mungkinkan oleh prosesor ini. Kemudian jarak antar frekuensi juga bisa dirubah juga. Kalau misal tadi frekuensi pertamanya 20,998, frekuensi ke duanya tidak harus mulai dari 30Hz, tapi 20,999 pun dimungkinkan. Sungguh pengaturannya bisa sangat presisi. Belum hanya itu pengaturan time alignment bisa dua angka di belakang koma juga dengan step sekitar 0,020. Pengaturan dengan tingkat kepresisian yang sama juga bisa dilakukan untuk level dan filter. Jadi intinya semua pengaturan dapat dilakukan secara sangat presisi.

Sound Test

Setelah mempelajari pengaturannya, selanjutnya kami hubungkan unit dengan head unit Pioneer dan power amplifier Gramond untuk outputnya. Sebagai penghasil suara sepasang speaker Fabulous Acoustic FA2 kami gunakan.

Pertama kami coba tanpa pengaturan, jadi sua dibuat flat saja. Kemudian lagu Sammy kami putar. Terdengar suara tinggi yang sedikit ditahan. Tampak prosesor ini memang karaktersitiknya melembutkan suara standar. Jadi tweeter yang harsh dan bright tidak akan berteriak dahulu. Baru setelahnya dilakukan pengaturan untuk membuatnya sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk pengaturannya, karena mungkin kami sudah lebih dahulu mempelajarinya, terasa mudah saja. Dan memang pengaturan yang dilakukan bisa sangat presisi, sehingga bagi installer yang memang suka akan kerapihan suara pasti sangat terbantu dengan prosesor yang seperti ini.

Dengan penampilan dan program prosesor yang ada, terlihat seharusnya harga yang ditawarkan cukup premium. Tapi informasi dari importirnya, harga unit kosong (tanpa setting) dijual dengan harga yang ekonomis. Kami tidak mendapat informasi mengapa demikian. Apa memang di desain untuk installer, sehingga bisa lebih mengenakan biaya setting atau bukan. Yang pasti dengan Foss Z-One DSP ini, kreatifitas installer dalam setting audio semakin bisa digunakan. Dan RTA dengan resolusi tinggi jadi mutlak dibutuhkan. Selamat setting audio.

dengan dimensi yang mungil. Speaker full range tampak semakin digemari. Terlihat juga dari mulai banyak speaker jenis tersebut yang beredar di pasaran. Wajar, sebab saat ini banyak dari pemilik mobil yang menginginkan kualitas suara yang lebih baik dari standar tapi tidak menginginkan modifikasi yang terlalu ekstrim.

Dari segi instalasi, full range jauh lebih mudah. Penempatannya mudah, settingnya juga relatif mudah. Teorinya, semakin sedikit driver yang digunakan, suara semakin mudah dijinakkan. Jadi untuk mudahnya pergunakanlah speaker full range.

Sesungguhnya banyak speaker standar bawaan mobil-pun sudah menggunakan jenis full range. Tapi range frekuensinya umumnya terbatas. Dan ukurannya relatif besar. Memang secara teoritis lagi, semakin besar ukuran speaker, suaranya semakin rendah. Untuk mengejar suara rendah tersebut, maka ukurannya besar. Namun suara tingginya jadi berkurang.

Foss Dueta

Seperti namanya “Dueta”, speaker ini dijual sepasang. Di kemas dalam dus yang sederhana. Namun ketika dibuka, akan terlihat sepasang driver speaker mungil berwarna hitam yang kokoh. Tampak menggoda untuk segera digunakan.

Basketnya dari aluminium diecast, dengan penampang luar setebal 3mm. Di baliknya terlihat magnet yang besar untuk ukuran speaker yang hanya berdiameter 2 inci ini. Magnet nya sendiri berukuran 1,5”. Coil yang meski tidak dipaparkan dalam spesifikasi yang di tulis, terlihat minimal berukuran 1 inci. Coil ini diberi ventilasi yang lebih dari cukup di sekelilingnya. Jika dilihat dari samping, tepat di bawah spider, ada celah selebar kurang lebih 2,5mm, itulah ventilasinya.

Bahan penghasil suara yang sampai saat ini dianggap memiliki kualitas paling tinggi digunakan sebagai konusnya. Memang terlihat seperti bahan polypropilene, namun sesungguhnya tetap papercone. Namun untuk membuatnya lebih tahan terhadap perubahan cuaca, terutama cuaca di Indonesia yang terbilang ekstrim, bahan tersebut di treatment secara khusus. Jadilah kualitas suara papercone, tapi durabilitas polypropilene.

Dari semua bahan yang terlihat digunakan, tampak Foss Dueta ini mampu menghasilkan suara yang natural dengan kekuatan yang maksimal. Ditambah lagi desain yang mirip dengan subwoofer, meski ukurannya kecil, menjanjikan suara yang lebih rendah dari full range yang berukuran hanya 2 inci.

Sound Test

Uji pertama kami tempatkan Foss Dueta ini secara free air, lalu menggabungkannya langsung dengan keluaran dari head unit. Suara yang terdengar jelas dengan titik artikulasi yang sesuai. Memang reproduksi suara yang terdengar terasa kering kurang bobot.

Kemudian kami masukkan driver speaker ke dalam box yang berukuran sekitar 0,3 liter. Ukuran tersebut masih terlihat normal untuk berada di atas dashboard. Kembali kami putarkan cd langsung tanpa power amplifier eksternal. Terdengar suara yang lebih berbobot. Lebih sempurna di banding sebelumnya. Suara rendahnya lebih natural tanpa mengurangi kualitas di frekuensi lainnya.

Kesimpulan

Dengan ukuran yang bisa dikatakan sangat kecil, speaker ini mampu bekerja lebih dari ukurannya. Yang terutama adalah reproduksi suara vokalnya yang natural, tidak berlebih dan juga tidak kekurangan tenaga. Harga yang ditawarkan juga relatif murah, dengan harga sekitar satu jutaan untuk sepasang speaker full range, menjadikan kualitasnya di atas harga yang ditawarkan

 

AmoPlus Lab.

Dari Grafik simulasi Burst & Decay, Foss Dueta terlihat mempunyai karakter yang dipersiapkan untuk didengar kuping manusia normal. Frekuensi menengah sekitar 1kHz terlihat dibuat menurun. Frekuensi tinggi dan rendah terlihat lebih tinggi.

Grafik RTA dari Foss Dueta yang ditempatkan dalam box dan menggunakan power amplifier eksternal, memperlihatkan bahwa respon suaranya nyaris rata. Frekeunsi yang turun baru setelah frekeunsi 12kHz. Itu-pun hanya turun saja, jadi secara teoritis frekuensi tinggi tetap di reproduksi meski hasilnya tidak terlalu sama dengan tweeter.

Spesifikasi

Frekuensi Respon

: 100Hz-20kHz

Impedansi

: 4 Ohm

Sensitivity

: 92 dB/watt/meter

Power handling

: 20 Watt

Materian cone

: Papercone

Size

: 2”

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − seventeen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.