Amoplusmagz
Amplifier Konvensional Bersaing Di Era DSP Plug and Play Amplifier Konvensional Bersaing Di Era DSP Plug and Play
Kembali, trend audio mobil di tanah air berubah dari yang tadinya ramai dengan SQL menjadi sesuatu yang lebih sederhana. Prosesor DSP Plug and Play... Amplifier Konvensional Bersaing Di Era DSP Plug and Play

Masih Sanggupkah Sistem Amplifier Konvensional Bersaing Di era DSP Plug and Play Ini?

Kembali, trend audio mobil di tanah air berubah dari yang tadinya ramai dengan SQL menjadi sesuatu yang lebih sederhana. Prosesor DSP Plug and Play seperti Pandora dari Venom atau merek lainnya yang tumbuh meniru kesuksesan Venom tampaknya menjadi pilihan karena menawarkan hasil yang dinamis dengan segala kemudahannya. Jadi bagaimana nasib Amplifier? Apakah mereka akan tergeser? Atau masihkan mereka bisa bersaing untuk menghadirkan suara yang baik sebagai solusi alternatif?

Gampang Pasang Hasil Lebih Baik?

Melihat dari apa yang ditawarkan produk Car Audio Processor atau DSP Built In Power yang bisa dipasang menggunakan kabel Harness Plug and Play seperti Pandora VPR4.6 MkII, tidak dapat dipungkiri jika paket minimalis DSP ini justru menawarkan hasil Optimal yang tidak pernah bisa ditawarkan sebelumnya dalam dunia audio mobil tanpa menggunakan multi-produk yang dipasang penuh kerumitan dan tuntutan khusus, terutama dari segi biaya VS hasil, plus embel embel tidak merusak garansi (yang paling teakhir ini adalah pertimbangan pamungkas bagi pemilik mobil baru dimana warranty menjadi pelidung terkuat yang bisa di tuntut oleh konsumen).

Dari segi hasil, berkat DSP, konsumen modern memiliki pengetahuan dan keinginan untuk mendapatkan panggung suara seperti yang diceritakan oleh banyak sekali review review online yang mereka bisa akses dengan sangat mudah melalui gadget kapan saja dimana saja. Dan kebanyakan instalatur bersetifikat mampu memberikan hasil suara melebihi harapan bahkan dengan menggunakan speaker standar bawaaan si kendaraan (tentunya hanya pada kendaraan kelas premium). DSP Plug And Play seperti Pandora meningkatkan kembali industri Audio Mobil karena hadir sebagai produk Must Have, layaknya gadget terbaru. Tidak perlu diragukan, DSP Plug and Play adalah investasi tidak salah pilih bagi pemilik kendaraan baru yang ingin meningkatkan kualitas suara dengan lebih optimal. Tidak heran jasa setting DSP instalatur audio mobil tenar sangat mahal tarifnya. Karena seperti iklannya, suara layaknya konser itu benar-benar bisa anda nikmati di dalam mobil. Kami tidak bohong, silahkan kunjungi Venom Poison Store di MGK.

Jadi apakah kita tidak perlu lagi melirik Power Amplifier 4 channel yang biasa dimanfaatkan untuk menghadirkan sistem sederhana 2 way plus subwoofer? Saya pikir kita harus mengetahui lebih jauh bagaimana sistem sederhana yang sebetulnya merupakan opsi yang tidak kalah menarik dari DSP ini mampu menghasilkan suara yang sagat buruk jika TIDAK DIPASANG DENGAN BENAR, sebelum kita menjatuhkan vonis jika sistem amplifier sederhana tidak mungkin akan bisa bersaing dengan DSP.

Pengetahuan Plus Logika Dasar Instalasi Audio

Menurut saya, sistem 2-way dengan crossover pasif + Subwoofer yang digerakan oleh sebuah amplifier 4 channel sudah lebih dari cukup untuk menghadirkan spektrum frekwensi yang bisa didengarkan oleh manusia dengan lengkap dan baik. Letak kekurangan dari sistem ini adalah bagaimana cara kita memperlakukan fitur fitur tertentu agar sistem bisa bekerja dengan efisien. Perlu dipahami, DSP menawarkan kemudahan pengaturan dengan menyediakan software dimana di dalamnya terdapat fitur dan fungsi untuk memperbaiki kesalahan instalasi. Dibandingkan dengan mengatur fitur sistem amplifier konfensional, menggunakan DSP sangat-sangatlah mudah. Instalatur benar benar dimanjakan dengan software pengaturan DSP. Bahkan ada iklan yang sampai menggambarkan tidak hanya kaum laki-laki tetapi ibu-ibu yang masih menggunakan roll rambut bisa mengatur DSP dari laptop dengan mudah. Bagi kalian generasi 2000-an mungkin pernah melihat produk DSP dari merek ARC yang sempat ditayang iklan pada media Audio Mobil menggambarkan ibu-ibu berdaster melakukan tuning DSP. Itu benar benar terjadi sekarang. Siapapun yang memikirkan iklan tersebut benar-benar memiliki visi terhadap masa depan DSP. Tetapi ini dia masalah utamanya, kemudahan DSP tidak mengajarkan untuk melakukan pengaturan hardware agar bisa digunakan lebih optimal.  PERHATIKAN, sebelum meyetel DSP seluruh sistim harus berada pada kondisi Default. Ini membuat saya berpikir. Kontradiksi terhadap DSP, menggunakan sistem Amplifier konfensional mengharuskan kita untuk melakukan pengaturan dari fitur fitur yang ada pada amplifier dan head unit dengan hanya mengaktifkan salah satudiantaranya atau mengkombinasikan keduanya secara bersamaan untuk mencapai hasil maksimal. Selain pengalaman, kita harus menguasai pengetahuan dan logika dasar dari pemasangan audio untuk memaksimalkan sistem sederhana ini. Dan sayangnya, kebanyakan dari sistim seperti ini tidak dioptimalkan dengan baik dan benar. Dengan menggunakanatau tidak menggunakan fitur yang tidak didukung oleh logika instalasi, hasil suara yang dihasilkan malah makin meredupkan sistem simpel yang bisa dinikmati oleh setiap orang ini, terutama mereka yang memiliki budget terbatas. Anda akan sangat kaget jika mendengarkan Sistem sederhana yang dipasang dengan baik, diatur dengan benar, dan ditata dengan rapih mampu mengasilkan suara yang lebih dari cukup untuk menangguhkan minat anda membeli DSP.

Faktor Faktormakin yang membingungkan

Meskipun di bawah ini akan menjadi salah satu penjelasan yang cukup panjang untuk dibaca, saya tidak mau mempersingkat apa yang nantinya malah menjadi pengetahuan nanggung karena akan menyesatkan persepsi atas penggunaan fitur amplifier. Audio adalah ilmu pasti dan membentuk suara maksimal adalah logika. Jadi kita membutuhkan keduanya berjalan selaras. Mari kita memulainya dengan melihat fitur umum yang ditawarkan oleh amplifier.

Yang pertama adalah input

Sebisa mungkin menggunakan high to low converter sebagai pilihan terakhir. Jika komponen input sinyal pada amplifier dilengkapi dengan fitur high level input yang menerima input jalur kabel speaker (jika head unit tidak dilengkapi dengan low level output RCA) gunakan jalur ini. Kebanyakan unit high to low converter yang ada di pasaran dilengkapi dengan potensio untuk menyeimbangkan output kiri dan kanan. Percaya pada saya, potensio ini adalah benalu yang bisa membuat rambut anda habis sebelum suara anda benar. Gunakan selalu low level output jika memang tersedia.

Kedua adalah gain pada amplifier

GAIN BUKANLAH VOLUME. Gain adalah fitur untuk mengoptimalkan/menyeimbangkan sinyal maksimal yang diterima dari head unit oleh input amplifier. Salah mengatur gain pada amplifier akan mengakibatkan distorsi yang diciptakan dari signal clipping. Percaya pada saya Clipping adalah event yang bisa menghasilkan efek asap dari amplifier anda. Jika ini terjadi, coba usahakan untuk menangkap asap tersebut dan segera kembalikan kedalam amplifier. Clipping bisa deteksi dengan menggunakan telinga.Atur gain 1/3 dibawah posisi clipping setelah mengatur output volume dari head unit pada posisi 2/3 dari maksimal (makin tinggi volume unit maka anda akan mendengarkan distorsi yang dinamakan hiss atau desis). Usahakan hiss tidak terdengar. Itu adalah posisi maksimal sinyal terbersih yang bisa diberikan oleh head unit yang anda gunakan.

Ketiga adalah built in Crossover

Merupakan salah satu fitur yang paling banyak disalah gunakan. Crossover section pada amplifier biasanya dilengkapi dengan selector/slider yang bisa ditaruh pada posisi LPF, Full dan HPF yang bisa ditentukan nilai titik potong frekwensinya dengan potensio untuk menaruh posisi atau nilai frekwensi optimal. Singkatnya LPF adalah untuk subwoofer, Full adalah defeat alias crossover baypass, dan HPF adalah untuk speaker satelit. Lebih rumit lagi, LPF kadang dilengkapi dengan fitur bass bosst dengan opsi tambahan untuk menentukan boost point seperti layaknya parametric equalizer. Percaya pada saya, salah mengatur posisi frekensi Crossover beserta fiturnya bisa membuat konsumen anda berpikir kalau toko ini pasti tidak waras. Lebih parah, pada amplifier mahal kadang terdapat fitur frequency multiplier dan Bandpass Crossover. Kemudian, jika anda menggunakan head unit standar yang sudah dilengkapi dengan adjustable electronic crossover network. Dimohon untuk tidak menggabungkan crossover pada amplifier dengan head unit. Gagal memahami konsep ini akan membuat pelanggan anda lari ke toko sebelah sambil membawa nama jelek yang bisa mencoreng citra pribadi dan mejadi bahan omongan ketika nanti sudah sukses.

Keempat adalah selectable input dan RCA output

Sebisa mungkin hindari penggunaan kabel RCA cabang atau istilah awamnya Y-Jack. Selain bisa menghadirkan degradasi sinyal, Y-Jack akan membuat instalasi audio seperti dipasang oleh orang kesurupan. Amplifier memiliki fitur input selector dimana kita bisa memilih untuk menjalankan keempat channel hanya dengan menggunakan 2 pasang input atau RCA output yang bisa kita gunakan sebagai jumper untuk memberikan sinyal kepada sepasang channel berikutnya. Menggunakan cara yang ringkas ini memang tidak membuat kita membeli atau menjual lebih banyak kabel. Percaya pada saya sistem yang rangkaian sinyalnya dipasang secara sederhana akan makin memperkecil permasalahan yang mungkin bisa atau akan ditimbulkan oleh cabang-cabang yang tidak bertanggung jawab.

Kelima adalah memaksimalkan fitur head unit

Jika kebetulan adan mendapatkan headunit standar dari merek aftermarket seperti JVC, Kenwood atau Pioneer. Coba lihat apakah headunit ini dilengkapi dengan output untuk subwoofer atau bisa diatur agar sepasang outputnya bisa difungsikan sebagai subwoofer output. Kalau ada dan bisa, gunakan jalur ini untuk memberikan sinyal subwoofer kepada bagian amplifier 4 channel yang menjalankan subwoofer. Percaya pada saya, dengan kemampuan membesar kecilkan suara bass yang bisa diatur melalui head unit, customer akan memandang anda seperti sedang memandang pesulap yang paling jago di dunia. Dan pasti, akan kembali untuk upgrade audionya menjadi DSP.

Paling Tidak Sudah Dimaksimalkan

Kenapa pada akhirnya saya memberikan posisi dalam tulisan ini ada customer sebagai objek penderita. Karena, yang menikmati sistem audio pada umumnya adalah konsumen. Pihak yang bertanggung jawab untuk menghadirkan suara maksimal yang bisa dihasilkan oleh sistem tersebut adalah yang memasangnya. Jika pemahaman diatas sudah dimengerti dan memiliki logika yang layak diperdebatkan, paling tidak pondasi pemasangan dengan benar sudah dilakukan. Meskipun hasil suara bisa bervariasi karena faktor2 lain, paling tidak seluruh fitur sudah difungsikan dengan benar. kualitas suara sistem yang sama yang diatur secara benar akan jauh lebih baik daripada sistem yang tidak diatur dan akan superior dibandingkan dengan sistem yang diatur secara amburadul.

Semoga bacaan ringan ini memberikan manfaat dan gambaran sebelum kita lebih dulu menyalahkan merek tertentu karena suaranya tidak sesuai dengan harapan anda. Siapa tahu amplifier 4 channel yang anda pakai sekarang kekuatannya tidak cocok untuk menjalakan subwoofer dual coil 12 inci yang ditaruh dengan menggunakan ukuran kotak yang salah dan bocor-bocor. Semua itu relatif, tergantung bagaimana meraciknya saja. Mungkin sistem sederhana ini tidak akan mampu menyaingi DSP dalam banyak hal spesifik. Tetapi jika semuanya berjalan dengan lancar, untuk memuaskan kebanyakan orang, yeah ini lebih dari cukup.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 9 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.